
Canggih, Pocong Cari Cuan di Tengah Kemacetan Lembang Bandung – Kemacetan lalu lintas di kawasan wisata Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), seringkali menjadi momok yang melelahkan bagi para wisatawan. Deretan kendaraan yang mengular, suara klakson yang bersahutan, dan panas mesin yang bercampur dengan udara dingin pegunungan adalah pemandangan lumrah, terutama saat musim liburan tiba. Namun, di balik kejenuhan tersebut, terselip sebuah fenomena unik yang justru menjadi hiburan segar bagi pengguna jalan.
Di Jalan Grand Hotel, Lembang, belasan sosok “hantu” justru menampakkan diri di siang bolong. Bukan untuk menakuti, mereka hadir dengan misi berbeda. Mengenakan kostum kain kafan putih lengkap dengan riasan wajah seram namun jenaka, para pemuda ini memiliki cara tersendiri untuk cari cuan di tengah kemacetan Lembang. Fenomena Costum Play (Cosplay) pocong ini telah mengubah wajah kemacetan yang membosankan menjadi panggung hiburan jalanan yang mengundang tawa dan rezeki.
Mengubah Rasa Bosan Menjadi Peluang Ekonomi
Ketika roda kendaraan terhenti akibat padatnya volume lalu lintas, para cosplayer pocong ini mulai beraksi. Dengan lincah, mereka berjalan atau melompat kecil di sela-sela sempit antara mobil dan bus pariwisata. Kehadiran mereka seolah menjadi oase di tengah gurun kebosanan para pengemudi dan penumpang.
Dilansir dari tribunnews.com, Strategi cari cuan di tengah kemacetan Lembang yang mereka terapkan terbilang sederhana namun efektif. Mereka tidak memaksa, melainkan menawarkan jasa hiburan visual. Respon masyarakat pun cukup positif. Banyak pengendara yang tadinya cemberut karena macet, mendadak tersenyum geli melihat tingkah polah pocong-pocong jalanan ini.
Kaca-kaca jendela mobil pun perlahan terbuka. Tangan-tangan penumpang terulur, ada yang sekadar ingin menyapa, merekam aksi mereka dengan kamera ponsel untuk konten media sosial, hingga memberikan imbalan uang. Prinsip “seikhlasnya” yang mereka pegang justru membuat rezeki mengalir lancar. Tanpa patokan tarif, apresiasi datang dalam berbagai bentuk pecahan rupiah, membuktikan bahwa kreativitas di jalanan pun bisa dihargai secara layak.
Pocong Cari Cuan di Tengah Kemacetan Lembang
Salah satu sosok di balik kostum tersebut adalah Dika, pemuda berusia 19 tahun yang telah menggeluti profesi unik ini selama beberapa tahun terakhir. Bagi Dika, cari cuan di tengah kemacetan Lembang bukan sekadar iseng, melainkan sebuah pekerjaan yang ia jalani dengan dedikasi.
Rutinitas Dika dimulai sejak pagi hari. Saat matahari mulai meninggi dan volume kendaraan meningkat, ia sudah siap dengan kostum kebesarannya. “Biasanya saya mulai jam 10 pagi. Tapi kalau kondisi macet parah, jam 9 pagi saya sudah turun jalan sampai jam setengah lima sore. Kalau sedang tidak terlalu ramai, ya sekuatnya badan saja,” ungkap Dika saat ditemui di sela-sela aksinya di Jalan Grand Hotel.
Bagi Dika dan rekan-rekannya, musim liburan seperti Natal dan Tahun Baru atau libur lebaran adalah masa “panen raya”. Kemacetan panjang yang dibenci sebagian orang justru menjadi berkah tersendiri bagi mereka. Semakin padat arus lalu lintas, semakin besar peluang interaksi dengan pengendara, dan semakin besar pula potensi pendapatan yang bisa dibawa pulang.
Dika menceritakan bahwa apresiasi dari pengguna jalan sangat beragam. Tidak hanya anak-anak yang antusias, orang dewasa pun banyak yang merasa terhibur dengan kehadiran mereka. “Banyak yang suka. Dikasihnya macam-macam, Kang. Kadang ada yang kasih 2 ribu, 5 ribu, 10 ribu. Bahkan pernah ada yang memberi 100 ribu sekali kasih,” jelasnya dengan mata berbinar.
Menariknya, Dika dan rekan-rekannya juga beradaptasi dengan teknologi. Di era digital ini, mereka tidak hanya menerima uang tunai. Beberapa cosplayer bahkan menyediakan kode QRIS yang dikalungkan untuk memudahkan pengendara yang tidak membawa uang tunai namun ingin memberikan apresiasi. Ini adalah bukti nyata bagaimana upaya cari cuan di tengah kemacetan Lembang juga mengikuti perkembangan zaman.
Lebih Baik Bergoyang daripada Mencuri

Di balik tingkah jenakanya, Dika memegang prinsip hidup yang kuat. Ia tidak merasa gengsi atau malu melakoni peran sebagai hantu jadi-jadian di pinggir jalan. Baginya, apa yang ia lakukan adalah pekerjaan mulia karena menghibur orang lain dan menjauhkan diri dari tindakan kriminal.
Pendapatan yang ia peroleh pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam kondisi normal, ia bisa mengantongi ratusan ribu rupiah dalam sehari. “Daripada mencuri, lebih baik begini. Kita bisa menghibur orang juga. Penghasilan paling kecil sehari bisa 150 ribu sampai 250 ribu rupiah. Kalau lagi ramai banget, bisa dapat 400 ribu sampai 800 ribu rupiah,” tuturnya.
Sambil berkelakar, Dika menambahkan sebuah kalimat yang menohok namun inspiratif, “Jadi Kang, daripada mencuri, lebih baik kita bergoyang di pinggir jalan.” Semangat kemandirian inilah yang membuat profesi cosplayer jalanan ini terus bertahan dan diminati oleh anak-anak muda setempat sebagai alternatif mata pencaharian.
Jejak Sejarah Cosplay Pocong Lembang
Di lokasi yang sama, cerita inspiratif lainnya datang dari Firmansyah (21). Pemuda ini bisa dibilang sebagai salah satu veteran atau perintis aksi cosplayer pocong di kawasan Lembang. Ia telah menekuni profesi ini sejak tahun 2017, jauh sebelum fenomena ini semarak seperti sekarang.
Firmansyah mengungkapkan bahwa ide cari cuan di tengah kemacetan Lembang dengan kostum hantu ini tidak muncul begitu saja. Inspirasinya datang dari kawasan perkotaan Bandung. “Dulu dapat idenya karena ada teman yang kerja jadi cosplayer hantu di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. Dia main ke Lembang, melihat di sini sering macet parah dan banyak wisatawan. Akhirnya tercetuslah ide untuk memulainya di sini. Awalnya kami hanya bertiga,” kenang Firmansyah.
Memulai sesuatu yang baru tentu tidak mudah. Tantangan mental dan finansial menjadi makanan sehari-hari di masa perintisan. Firmansyah mengakui bahwa rasa malu sempat menghantuinya lebih seram daripada kostum yang ia kenakan.
Dari 15 Ribu Rupiah Hingga Sukses Berwirausaha
Perjalanan Firmansyah membuktikan bahwa kesuksesan membutuhkan proses. Di masa-masa awal, respons masyarakat belum sehangat sekarang. Pendapatan yang mereka peroleh pun sangat minim, bahkan jauh dari kata cukup.
“Awalnya malu banget, Kang. Tapi karena desakan kebutuhan ekonomi, ya dipaksakan sampai akhirnya rasa malunya hilang. Dulu pas awal merintis, pernah satu hari cuma dapat 15 ribu rupiah. Bayangkan, uang segitu harus dibagi untuk tiga orang. Itu masa-masa pahitnya saat ‘menanam benih’ usaha ini,” ujarnya menceritakan masa sulit tersebut.
Namun, konsistensi Firmansyah membuahkan hasil manis. Seiring berjalannya waktu, mentalnya semakin terasah dan ia semakin piawai dalam menarik perhatian pengendara. Keahliannya dalam menghibur membuat pendapatannya melonjak drastis. Upaya cari cuan di tengah kemacetan Lembang yang ia rintis kini tidak hanya cukup untuk makan sehari-hari, tetapi juga menjadi modal untuk masa depan.
Firmansyah dengan bangga menceritakan bahwa uang hasil keringatnya menjadi pocong jalanan telah diputar kembali untuk modal usaha lain. Saat ini, ia sukses menjalankan bisnis ternak hamster dari hasil tabungannya.
“Alhamdulillah, sekarang rata-rata sehari bisa dapat di atas 100 ribu. Bahkan sekitar empat tahun lalu, saya pernah dapat rekor 3 juta rupiah dalam sehari. Uangnya saya tabung dan sekarang dipakai untuk usaha ternak hamster juga,” pungkasnya penuh syukur.
Inspirasi Bagi Pemuda Sekitar
Keberhasilan Firmansyah, Dika, dan kawan-kawannya telah menciptakan efek domino positif di lingkungan mereka. Ide kreatif yang awalnya diremehkan kini menjadi lapangan kerja informal yang menjanjikan bagi puluhan pemuda lainnya.
Saat ini, diperkirakan ada lebih dari 30 orang yang menekuni profesi serupa di sepanjang jalur wisata Lembang. Meski jumlahnya bertambah banyak, mereka memiliki aturan main sendiri dengan membagi kelompok dan wilayah agar tidak terjadi gesekan, serta tetap menjaga ketertiban lalu lintas.
Kisah mereka mengajarkan kita bahwa peluang rezeki bisa datang dari mana saja, bahkan dari situasi yang menyebalkan seperti kemacetan lalu lintas. Dengan sedikit kreativitas, keberanian menepis gengsi, dan kerja keras, cari cuan di tengah kemacetan Lembang bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang mampu menopang ekonomi keluarga dan membuka jalan menuju wirausaha mandiri.
