
Sore itu, wajah Nurdin terlihat penuh darah. Warnanya merah tua bercampur hitam mengalir di pipi, pelipis, hingga bagian telinga. Darah dari sapi kurban Idul Adha yang ia sembelih di Masjid Istiqlal terlihat mengering saat ia berbicara dengan media, Kamis (28/5). Ia bukan penyembelih, tapi orang yang mengambil keputusan kritis saat proses berlangsung.
Sebagai kepala potong di Amanah Bersama, Nurdin mengatur tim jagal yang menangani dua sapi utama: sumbangan dari Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Tugasnya memastikan sapi ditidurkan dengan tepat sebelum disembelih. Ia mengatur tali tambang di kaki, menahan badan, dan memastikan kepala tak bergerak saat pisau menyayat.
Baca Juga: Kemenag Tegaskan Lokasi Pencabulan Pekalongan Padepokan Bukan Ponpes
“Kalau sapi besar, tali tambang harus dobel,” kata Nurdin saat berbicara di depan RPH Masjid Istiqlal. Saat Si Loreng, sapi dari Prabowo, dibaringkan, ia berdiri paling dekat dengan kepala. Tangan kanannya hanya beberapa telapak dari pisau jagal.
Darah menyembur deras saat sayatan pertama mengenai leher. Nurdin tetap memegang kepala sapi erat, mengawasi penyembelih, dan mengangkat tangan sebagai tanda berhenti. Di arena itu, ia seperti dirigen, meski berdiri di lantai rumah potong dengan tangan berlumuran darah.
Baca Juga: Guardiola Dukung Kemenangan West Ham
Peran serupa ia ulangi saat menyembelih Wirabumi, sapi dari Gibran. Ia mengatur ritme, memastikan kaki terikat sempurna, lalu mengawasi jalannya proses. Lambaian tangannya menjadi aba-aba akhir yang langsung dipatuhi.
Kepiawaian Nurdin tak datang dalam semalam. Ia menggeluti pekerjaan ini sejak 1993. Ukuran sapi kini jauh lebih besar. Dulu, tiga orang cukup, kini butuh minimal enam untuk mengendalikan tubuh sapi jumbo.
Baca Juga: Indra The Rain dan Bongky BIP Jadi Badan Pengawas WAMI
Tahun ini, tim Amanah Bersama mengurus hampir 500 hewan di berbagai titik. Meski penghasilan bukan fokusnya, Nurdin mengatakan, “Kita Alhamdulillah, yang penting selamat saja.” Ia menekankan kerja tim: tim ringkus, penyembelih, penguliti, hingga orang yang melepas kaki—semuanya seperti satu mesin besar yang harus kompak.
Di ujung obrolan, Nurdin menyampaikan harapan sederhana. Suatu hari, ia ingin menjadi orang yang memegang pisau, bukan hanya kepala sapi. “Kalau tahun depan disuruh potong sapi Presiden, mau enggak?” tanya kami. “Insyaallah,” jawabnya sambil tersenyum.
