
kornet.co.id – Fenomena alam yang biasanya identik dengan ketenangan, kesunyian, dan keindahan panorama kembali tercoreng oleh ulah manusia. Kali ini, publik dikejutkan oleh viralnya sebuah video perkelahian dua pendaki wanita di jalur pendakian Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat. Peristiwa tersebut bukan sekadar cekcok kecil. Bukan pula perdebatan spontan. Namun berupa adu rambut, saling tarik, teriakan, hingga suasana ricuh yang membuat para pendaki lain terperangah.
Drama di Tengah Alam
Di balik kabut tipis dan rimbunnya vegetasi khas pegunungan, dua wanita yang seharusnya menikmati perjalanan bersama rombongan justru terlibat konfrontasi fisik. Penyebabnya begitu ironis—dugaan perselingkuhan seorang pria yang ikut dalam rombongan pendakian. Keheningan pegunungan mendadak pecah oleh jeritan dan sorakan panik.
Pendaki lain berusaha melerai. Beberapa mencoba menenangkan, sementara yang lain justru merekam kejadian tersebut. Rekaman inilah yang kemudian menyebar luas di media sosial, menyalakan diskusi besar mengenai etika pendakian dan dinamika hubungan manusia modern.
Perselingkuhan yang Berujung Kekacauan
Informasi yang berkembang menyebutkan bahwa salah satu wanita membawa seorang pria yang diduga menjadi pemicu konflik. Kehadiran pria tersebut mengundang kecemburuan dan dugaan hubungan terlarang, yang sudah lama menimbulkan ketegangan sebelum akhirnya meledak di jalur pendakian Gunung Talang.
Pendakian seharusnya menjadi aktivitas melepas penat. Tempat untuk menjernihkan pikiran. Namun konflik interpersonal yang seharusnya bisa diselesaikan secara dewasa justru dibawa ke medan yang sama sekali tidak tepat, membuat suasana hening berubah menjadi panggung drama penuh emosi.
Media Sosial Membakar Situasi
Video viral ini langsung menjadi perbincangan di berbagai platform. Banyak warganet mengecam tindakan kedua pihak yang dianggap tidak mengindahkan etika pendakian. Sebagian lain menyoroti fenomena “toxic relationship” yang merembet ke mana-mana, bahkan ke lokasi yang seharusnya mendorong kedamaian batin.
Komentar-komentar bernada lucu, sinis, hingga prihatin bercampur menjadi satu. Ada yang menyesalkan rombongan pendakian Gunung Talang yang tidak mampu mengantisipasi konflik sejak awal. Ada pula yang menyinggung soal budaya rekam-dulu-bantu-belakangan, yang makin marak terjadi ketika insiden seperti ini muncul di ruang publik.
Tanggung Jawab Pendaki dan Etika di Alam Terbuka
Peristiwa ini membuka kembali diskusi tentang pentingnya etika selama melakukan pendakian. Setiap pendaki, tanpa terkecuali, berada dalam ruang yang sama. Mereka saling bergantung dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan satu sama lain. Pertikaian, apalagi yang melibatkan kekerasan fisik, bukan hanya membahayakan diri sendiri tetapi juga orang lain.
Konflik seperti ini sangat berisiko. Di jalur Gunung Talang yang memiliki medan cukup menantang, fokus dan kehati-hatian merupakan hal utama. Ketika emosi tidak terkendali, potensi kecelakaan meningkat tajam—baik karena kehilangan keseimbangan, tergelincir, maupun mengabaikan keselamatan saat situasi menjadi kacau.
Gunung Bukan Panggung Drama
Menghadapi viralnya kejadian tersebut, banyak pecinta alam yang mengingatkan bahwa gunung bukanlah tempat untuk melampiaskan konflik pribadi. Gunung adalah ruang sakral bagi banyak pendaki—ruang untuk merenung, menyatu dengan alam, dan merawat jiwa. Membawa drama percintaan dan perselingkuhan ke alam terbuka menunjukkan ketidakmatangan emosional dan minimnya rasa hormat terhadap lingkungan.
Gunung Talang sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi favorit pendaki di Sumatera Barat. Pemandangannya menawan, jalurnya menantang namun tetap menarik bagi pendaki pemula hingga berpengalaman. Namun reputasi tempat indah ini justru tercoreng oleh aksi yang sama sekali tidak mencerminkan budaya pendakian yang baik.
Pelajaran dari Insiden Viral Ini
Setiap kejadian selalu mengandung pesan. Pertama, penyelesaian masalah pribadi seharusnya dilakukan di tempat yang aman dan tepat, bukan di area yang membutuhkan konsentrasi tinggi seperti jalur pendakian. Kedua, rombongan pendaki idealnya memiliki kesepakatan dan komunikasi yang kuat sebelum melakukan perjalanan bersama. Rasa saling menghormati dan saling menjaga adalah pondasi penting agar pendakian berjalan lancar.
Ketiga, masyarakat kini lebih gampang terpancing oleh sensasi. Alih-alih membantu melerai, banyak orang memilih merekam kejadian. Hal ini menunjukkan perlunya edukasi mengenai prioritas keselamatan dalam situasi konflik di ruang publik.
Penutup
Insiden adu jambak di jalur pendakian Gunung Talang bukan sekadar perkelahian dua wanita. Ini adalah cerminan bagaimana konflik personal dan dinamika hubungan bisa merusak suasana alam yang seharusnya menenangkan. Lebih jauh lagi, ini adalah pengingat bagi semua pendaki: hormati alam, hormati sesama, dan kendalikan emosi sebelum melangkah ke medan yang menuntut ketenangan.
Gunung adalah tempat untuk menyembuhkan diri, bukan ruang untuk membawa masalah yang seharusnya diselesaikan dengan kepala dingin. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga agar setiap perjalanan ke alam bebas dapat kembali pada nilai utamanya—kedamaian, kebersamaan, dan penghormatan terhadap lingkungan.

