
Terjangan Air yang Mengubah Wajah Permukiman
Kornet.co.id – Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Ogan Komering Ulu (OKU) Timur memicu Banjir yang merendam puluhan rumah warga. Air datang perlahan, lalu meningkat cepat. Dalam hitungan jam, genangan menutup akses jalan, menyelinap ke halaman, dan akhirnya masuk ke ruang-ruang hunian. Tujuh desa terdampak, masing-masing menghadapi situasi darurat yang serupa: aktivitas lumpuh, logistik terbatas, dan kecemasan yang menyelimuti.
Pada sejumlah titik, ketinggian air dilaporkan mencapai dada orang dewasa. Kondisi ini memaksa warga mengungsi ke tempat yang lebih aman, memindahkan barang-barang penting, serta mengamankan anak-anak dan lansia. Banjir tidak sekadar menenggelamkan lantai rumah; ia merampas rasa aman dan kepastian hidup harian.
Kronologi Kejadian: Dari Hujan Panjang hingga Luapan Sungai
Awal kejadian bermula dari hujan yang turun tanpa jeda. Curah hujan tinggi memicu kenaikan debit sungai dan saluran air yang tak mampu menampung limpasan. Tanah yang telah jenuh air mempercepat aliran permukaan. Dalam kondisi ini, Banjir menjadi keniscayaan.
Beberapa desa melaporkan air mulai naik pada malam hari. Pagi berikutnya, genangan semakin meluas. Jalan poros terendam. Aktivitas sekolah terhenti. Pasar sepi. Warga berjibaku mengevakuasi perabot dan dokumen penting. Mesin pompa dikerahkan, namun tak selalu efektif menghadapi volume air yang terus bertambah.
Tujuh Desa dalam Pusaran Dampak
Sebanyak tujuh desa tercatat terdampak Banjir dengan tingkat keparahan berbeda. Di desa yang berada di dataran rendah, air bertahan lebih lama. Sementara di wilayah yang berdekatan dengan aliran sungai, luapan datang lebih cepat dan tinggi.
Puluhan rumah terendam. Dapur dan ruang tidur menjadi titik paling rentan. Peralatan elektronik rusak. Persediaan pangan basah. Kondisi sanitasi memburuk, meningkatkan risiko penyakit pascabanjir. Di beberapa lokasi, warga memilih bertahan di rumah panggung atau lantai atas. Di lokasi lain, pengungsian menjadi pilihan paling aman.
Banjir dan Tantangan Infrastruktur
Peristiwa ini kembali menyoroti tantangan infrastruktur di OKU Timur. Saluran drainase yang menyempit, sedimentasi sungai, serta alih fungsi lahan memperparah dampak Banjir. Ketika hujan ekstrem bertemu sistem pengendalian air yang terbatas, genangan berubah menjadi bencana.
Jembatan kecil dan gorong-gorong tak mampu menyalurkan debit air. Endapan lumpur menghambat aliran. Di sisi lain, pembukaan lahan tanpa pengelolaan resapan membuat air hujan mengalir deras ke permukiman. Ini bukan semata soal cuaca; ini tentang kesiapsiagaan dan tata kelola ruang.
Respons Darurat dan Upaya Penanganan
Pemerintah daerah bersama aparat setempat bergerak melakukan penanganan darurat. Evakuasi warga menjadi prioritas. Posko didirikan. Bantuan logistik disalurkan. Tim kesehatan bersiaga untuk mengantisipasi penyakit kulit, diare, dan infeksi saluran pernapasan.
Pompa air dikerahkan untuk mempercepat surutnya genangan. Pembersihan lumpur dilakukan secara bertahap. Namun, Banjir yang berulang menuntut solusi jangka panjang. Tanggul, normalisasi sungai, dan perbaikan drainase menjadi agenda mendesak yang tak bisa ditunda.
Dampak Sosial dan Psikologis
Di balik angka dan laporan, Banjir menyisakan dampak sosial yang nyata. Anak-anak kehilangan ruang bermain. Orang tua cemas memikirkan pekerjaan yang terhenti. Lansia menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar. Trauma pascabanjir sering kali tak terlihat, namun membekas.
Kehilangan harta benda memperparah beban. Perabot rusak. Alat kerja tak bisa digunakan. Bagi warga berpenghasilan harian, satu hari terendam berarti satu hari tanpa pemasukan. Banjir menguji ketahanan komunitas, memaksa mereka saling membantu di tengah keterbatasan.
Lingkungan dan Perubahan Iklim
Fenomena Banjir di OKU Timur juga berkaitan dengan dinamika iklim yang kian ekstrem. Pola hujan berubah. Intensitas meningkat. Durasi memanjang. Ketika adaptasi lingkungan tertinggal, risiko bencana ikut meningkat.
Rehabilitasi daerah aliran sungai, penanaman kembali vegetasi, serta perlindungan kawasan resapan menjadi kunci. Tanpa langkah ini, Banjir akan terus berulang dengan dampak yang semakin luas. Pencegahan tak kalah penting dari penanganan.
Rekomendasi Strategis ke Depan
Penanganan Banjir membutuhkan pendekatan komprehensif. Pertama, penguatan infrastruktur drainase dan sungai. Kedua, penataan ruang berbasis risiko bencana. Ketiga, edukasi masyarakat tentang kesiapsiagaan dan evakuasi.
Sistem peringatan dini perlu diperkuat. Data curah hujan dan debit sungai harus terintegrasi. Dengan demikian, warga memiliki waktu untuk bersiap. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar setiap musim hujan tidak selalu berakhir dengan krisis.
Penutup
Banjir yang merendam puluhan rumah di OKU Timur dan berdampak pada tujuh desa adalah alarm keras. Ia menuntut respons cepat hari ini dan kebijakan bijak untuk esok. Air memang akan surut. Namun pelajaran tak boleh tenggelam.
Dengan perencanaan matang, infrastruktur yang adaptif, dan kepedulian lingkungan, risiko Banjir dapat ditekan. Yang dibutuhkan adalah komitmen berkelanjutan—agar hujan kembali menjadi berkah, bukan ancaman.

