
Gelombang Air Laut yang Mengancam Permukiman
Kornet.co.id – Fenomena Banjir Rob kembali menyergap wilayah pesisir Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, membawa genangan luas yang meresahkan ratusan warga. Dalam insiden terbaru, tercatat sebanyak 84 rumah terdampak. Air laut yang naik secara tiba-tiba menciptakan kondisi kacau: halaman tergenang, teras rumah terendam, dan beberapa akses jalan tak lagi bisa dilalui.
Kondisi ini bukan sekadar peristiwa musiman. Bagi warga setempat, Banjir Rob adalah ancaman yang semakin sering datang, tak jarang tanpa peringatan. Ketika pasang maksimum terjadi, air yang menerobos daratan bisa mencapai tinggi yang memaksa warga untuk memindahkan perabot dan barang berharga ke tempat lebih aman.
Dampak Langsung terhadap Warga
Gelombang rob yang menerjang pesisir Bengkayang kali ini membawa beban psikologis dan material yang besar. Para warga harus berjibaku mengamankan benda-benda rumah tangga dari genangan yang terus merangkak naik. Beberapa rumah mengalami kerusakan ringan; sebagian kusen pintu lapuk karena terlalu sering terpapar air asin. Bagi masyarakat pesisir, memprediksi kapan bencana datang adalah hal yang mustahil, sehingga mereka hanya mengandalkan kewaspadaan dan pengalaman setiap kali Banjir Rob muncul.
Tidak hanya itu, para orang tua menghadapi tantangan ekstra untuk menjaga keselamatan anak-anak agar tidak terpeleset atau terbawa arus kecil yang mengalir cepat. Aktivitas sehari-hari pun lumpuh seketika. Nelayan yang hendak melaut harus menunda keberangkatan, pedagang terhambat untuk membuka kios, dan beberapa warga memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat yang lebih jauh dari pesisir.
Kerentanan Ekologi Pesisir Bengkayang
Secara geografis, wilayah pesisir Bengkayang berada pada zona transisi antara daratan dan laut yang sangat dipengaruhi siklus pasang surut. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perubahan iklim global memperparah intensitas Banjir Rob. Kenaikan muka air laut membuat daerah-daerah rendah semakin mudah digenangi. Selain itu, abrasi yang terus terjadi membuat garis pantai semakin mundur, mengikis benteng alami yang selama ini menjadi pelindung warga dari serbuan air laut.
Beberapa warga juga mengeluhkan bahwa hutan mangrove yang dulunya menjadi penahan ombak kini tidak lagi sepadat dulu. Berkurangnya vegetasi pesisir memperbesar kemungkinan air laut meluber ke pemukiman. Tanpa upaya pemulihan ekologis, fenomena Banjir Rob di Bengkayang berpotensi menjadi lebih ekstrem.
Respons Pemerintah dan Upaya Penanggulangan
Dalam momentum krisis ini, pemerintah daerah bergerak cepat melakukan pendataan terhadap rumah terdampak. Tim BPBD dikerahkan untuk memantau potensi genangan susulan, mengingat siklus pasang masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. Warga diimbau untuk tetap waspada dan tidak menempatkan barang berharga di area rendah rumah.
Tindakan darurat berupa penguatan tanggul sementara dan pemasangan pompa penyedot air sudah dilakukan di beberapa titik. Meski begitu, langkah-langkah tersebut hanya berfungsi sebagai solusi jangka pendek. Tanpa penanganan struktural yang komprehensif, peristiwa Banjir Rob seperti ini akan terus berulang.
Pemerintah daerah juga menegaskan perlunya program revitalisasi pesisir, mulai dari penanaman mangrove, peninggian tanggul permanen, hingga penyusunan tata ruang yang lebih adaptif terhadap risiko bencana alam.
Ketabahan Masyarakat Pesisir
Di tengah keterbatasan, ketahanan sosial warga Bengkayang patut diapresiasi. Mereka saling membantu membersihkan air yang masuk ke rumah, mengevakuasi barang, hingga menyiapkan makanan bagi tetangga yang kesulitan. Solidaritas menjadi kekuatan utama masyarakat pesisir ketika berhadapan dengan bencana yang datang berulang.
Meski lelah menghadapi ancaman Banjir Rob setiap tahun, warga tetap memilih bertahan, mempertahankan hunian, dan melanjutkan aktivitas mereka. Bagi sebagian besar dari mereka, pesisir bukan hanya tempat tinggal—melainkan identitas, mata pencaharian, dan ruang hidup yang sudah melekat secara emosional.
Tantangan Ke Depan
Fenomena Banjir Rob di Bengkayang menegaskan bahwa wilayah pesisir Indonesia semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim. Peningkatan curah hujan ekstrem, naiknya permukaan laut, dan perubahan kontur geografis turut memicu bencana yang lebih sering dan lebih merugikan.
Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk menyusun strategi mitigasi yang lebih tangguh. Pendidikan kebencanaan, peningkatan infrastruktur, serta pemulihan ekosistem pesisir menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan jangka panjang.
Penutup
Genangan air yang merendam 84 rumah di pesisir Bengkayang bukan sekadar laporan bencana harian. Ini adalah alarm peringatan bahwa fenomena Banjir Rob semakin mendesak untuk ditangani secara serius. Selama solusi struktural belum hadir, selama ekosistem belum dipulihkan, dan selama garis pantai terus terkikis, warga pesisir akan tetap berada dalam siklus ancaman yang sama.
Namun di balik itu semua, masyarakat Bengkayang menunjukkan bahwa ketangguhan bukan hanya soal bertahan, tetapi juga tentang saling menjaga dan tidak kehilangan harapan, sekalipun air terus datang menghampiri.

