
Kasus Bupati Aceh Umrah Saat Bencana, Gubernur Mualem Murka memicu perhatian publik setelah foto keberangkatan Bupati Aceh Selatan Mirwan MS ke Tanah Suci beredar di media sosial. Kepergian tersebut terjadi di tengah bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh Selatan, salah satu wilayah yang paling terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh.
Di hari yang sama, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, menegaskan kemarahannya karena Mirwan pergi tanpa izin yang sah. Pemerintah Aceh mengonfirmasi bahwa permohonan izin ke luar negeri telah ditolak akibat kondisi darurat.
Kontroversi tersebut berkembang menjadi isu nasional karena menyangkut etika kepemimpinan, koordinasi pemerintahan, dan sensitivitas terhadap masyarakat yang sedang mengalami krisis.
Latar Belakang Bencana yang Memicu Polemik
Dilansir dari detik.com, Kabupaten Aceh Selatan merupakan salah satu daerah yang mengalami dampak berat dari bencana banjir dan longsor akibat cuaca ekstrem. Ribuan warga mengungsi, akses jalan terputus di beberapa titik, dan sejumlah wilayah terisolir.
Pemerintah Aceh telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi 2025, sedangkan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan juga mengumumkan status tanggap darurat banjir dan tanah longsor.
Dalam situasi itu, publik menilai kehadiran kepala daerah sangat penting untuk:
- Menyupervisi distribusi bantuan
- Memastikan pengungsi mendapat layanan
- Mengawasi perbaikan akses darurat
- Berkoordinasi dengan provinsi dan pusat
Namun kepergian Mirwan ke Tanah Suci justru terjadi di tengah puncak penanganan bencana.
Penjelasan Pemkab Aceh Selatan Mengenai Kepergian Mirwan
Meski menuai polemik, pihak pemerintah kabupaten memberikan pembelaan. Kabag Prokopim Pemkab Aceh Selatan, Denny Herry Safputra, menjelaskan bahwa keberangkatan Mirwan MS bersama istrinya dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi terkini yang disebut sudah membaik.
Pernyataan Resmi Pemkab
Dalam keterangan resminya, Denny menyebut:
“Keberangkatan Bupati Aceh Selatan beserta istri menjalani ibadah umrah dilakukan setelah melihat situasi wilayah Aceh Selatan yang sudah stabil, terutama debit air yang sudah surut di Bakongan Raya dan Trumon Raya.”
Ia juga menilai bahwa narasi yang menyebut Mirwan meninggalkan rakyatnya adalah keliru, sebab sebelum berangkat, Mirwan disebut telah turun langsung meninjau sejumlah lokasi terdampak banjir dan memastikan bantuan tersalurkan.
Foto Keberangkatan yang Viral
Polemik semakin meluas setelah foto Mirwan yang mengenakan pakaian ihram muncul di akun Instagram travel umrah yang ia gunakan. Foto tersebut viral, sehingga menuai respons cepat dari masyarakat dan pemerintah provinsi.
Kepergian Tanpa Izin: Gubernur Mualem Murka
Fakta bahwa Bupati Aceh Umrah Saat Bencana, Gubernur Mualem Murka menjadi sorotan karena ternyata Mirwan berangkat tanpa izin Gubernur.
Izin Ditolak Karena Status Darurat
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menegaskan:
“Gubernur telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi 2025. Maka permohonan izin itu secara resmi ditolak.”
Dengan status darurat, semua kepala daerah diminta tetap berada di wilayah masing-masing untuk memastikan penanganan bencana berjalan optimal.
Namun Mirwan tetap berangkat ke Tanah Suci meskipun izin ditolak.
Mualem Menyatakan Kemarahannya Secara Terbuka
Saat diwawancarai wartawan di Lanud Sultan Iskandar Muda, Mualem dengan tegas menyampaikan kekecewaannya.
Beberapa pernyataannya yang paling menonjol:
“Sudah tidak saya teken. Untuk sementara waktu jangan pergi. Dia pergi juga, terserah.”
“Sanksinya nanti Mendagri yang menentukan.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Gubernur sama sekali tidak memberikan izin, dan kepergian itu murni keputusan pribadi Mirwan.
Respons Pemerintah Aceh Selatan: Belum Ada Konfirmasi dari Mirwan
Pemerintah Aceh menyebut beberapa pejabat Pemkab Aceh Selatan yang dihubungi belum memberikan jawaban atau konfirmasi.
Hal ini semakin memperkuat kesan bahwa keputusan berangkat umrah diambil secara pribadi tanpa koordinasi jelas dengan pemerintah provinsi.
Kondisi Bencana Aceh Selatan Saat Bupati Berangkat
Untuk memahami konteks polemik ini, penting melihat kondisi lapangan saat keberangkatan berlangsung.
Wilayah Terparah
Beberapa kecamatan yang terdampak paling parah meliputi:
- Bakongan Raya
- Trumon Raya
- Kluet Timur
- Meukek
- Pasie Raja
Dampak Bencana
Menurut laporan BPBD Aceh Selatan:
- Ribuan rumah terendam
- Puluhan titik longsor menutup akses jalan
- Listrik padam di beberapa wilayah
- Ratusan warga mengungsi
- Fasilitas umum seperti sekolah dan puskesmas terganggu operasionalnya
Dalam kondisi seperti itu, masyarakat menilai peran bupati sangat vital untuk memastikan pelayanan berjalan baik.
Sorotan Publik dan Respons Warganet
Berita Bupati Aceh Umrah Saat Bencana, Gubernur Mualem Murka langsung menjadi trending di berbagai platform digital.
Kritik Warganet
Banyak masyarakat mempertanyakan:
- Prioritas Bupati
- Sensitivitas terhadap situasi bencana
- Etika kepemimpinan
- Penghormatan terhadap keputusan gubernur
Media sosial dipenuhi komentar yang menilai tindakan tersebut tidak tepat dalam konteks darurat.
Pembelaan Sebagian Kelompok
Namun ada juga sebagian kecil warganet yang mengatakan:
- Umrah adalah ibadah
- Situasi kabupaten diklaim sudah membaik
- Pemerintahan tetap dapat berjalan melalui perangkat daerah
Tetap saja, mayoritas berpendapat bahwa sebagai kepala daerah, Mirwan seharusnya berada di lokasi selama masa tanggap darurat.
Dimensi Hukum dan Administratif: Apa Sanksinya?
Polemik ini belum mengarah ke ranah hukum. Namun secara administratif, ada kemungkinan sanksi dijatuhkan oleh Kementerian Dalam Negeri.
Jenis Sanksi yang Mungkin Diberikan
Kemendagri dapat memberikan:
- Teguran tertulis
- Pembinaan khusus
- Peringatan keras
- Rekomendasi pemberhentian sementara (untuk kasus ekstrem yang melanggar aturan secara serius)
Namun hingga kini, Mendagri belum mengeluarkan keterangan lanjutan.
Perspektif Pemerintahan: Etika dan Tanggung Jawab Saat Bencana
Dalam sistem pemerintahan daerah Indonesia, kepala daerah memiliki peran strategis dalam koordinasi penanganan bencana.
Tanggung jawab bupati meliputi:
- Koordinasi cepat dengan BPBD
- Menetapkan status tanggap darurat
- Meninjau wilayah terdampak
- Menjamin distribusi bantuan
- Menyampaikan laporan resmi ke provinsi dan pusat
Ketika bupati keluar negeri tanpa izin di tengah status darurat, hal ini dianggap:
- Melanggar etika
- Mengganggu alur koordinasi
- Menurunkan kepercayaan masyarakat
- Berpotensi menghambat respon penanganan
Inilah yang menjadi alasan kuat mengapa Gubernur Mualem murka.
Kronologi Lengkap Kejadian
Untuk mempermudah pemahaman, berikut alur singkat kronologi:
- 1. Bencana Melanda Aceh Selatan
- Cuaca ekstrem menyebabkan banjir dan longsor di sejumlah kecamatan.
- 2. Pemkab Menetapkan Status Tanggap Darurat
- BPBD melaporkan kerusakan dan pengungsian.
- 3. Mirwan Mengajukan Izin Keluar Negeri
- Izin diminta kepada Gubernur Aceh, sebagai aturan yang berlaku.
- 4. Gubernur Mualem Menolak Izin
- Dengan alasan status darurat bencana.
- 5. Mirwan Tetap Berangkat Umrah
- Bersama istrinya, menggunakan jasa travel.
- 6. Foto Keberangkatan Viral
- Diunggah oleh travel, memicu polemik publik.
- 7. Gubernur Menyatakan Kemarahan Terbuka
- Menyerahkan proses sanksi kepada Mendagri.
- 8. Pemkab Memberikan Klarifikasi
- Mengatakan kondisi sudah stabil sebelum bupati berangkat.
Analisis Ahli: Mengapa Polemik Ini Membesar?
Beberapa pakar pemerintahan dan komunikasi publik menilai ada beberapa faktor yang membuat isu ini berkembang:
1. Momen Tidak Tepat
Keberangkatan di masa tanggap darurat menciptakan persepsi kurang peka.
2. Izin Ditolak, Tapi Tetap Berangkat
Ini menimbulkan pertanyaan soal kepatuhan administratif.
3. Viral di Media Sosial
Foto beredar cepat, memperbesar dampak publik.
4. Sensitivitas Masyarakat Aceh
Aceh dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap kepemimpinan yang dekat dengan rakyat.
Penutup: Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Kasus Bupati Aceh Umrah Saat Bencana, Gubernur Mualem Murka masih terus berkembang. Sampai saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari Mirwan MS mengenai alasan detail keberangkatannya, maupun respons terhadap kemarahan Gubernur Aceh.
Publik kini menunggu:
- Sikap Mendagri
- Klarifikasi lengkap dari Mirwan
- Langkah Pemerintah Aceh dalam pembinaan kepala daerah
- Evaluasi penanganan bencana di Aceh Selatan
Di tengah situasi bencana, sensitivitas pemimpin daerah sangat dibutuhkan. Polemik ini menjadi pelajaran penting bagi pejabat publik tentang pentingnya prioritas, komunikasi, dan etika di saat masyarakat sedang menghadapi krisis.

