
Kornet.co.id – Kasus kecanduan judol kembali menorehkan luka mendalam di tengah masyarakat. Di Pasuruan, seorang cucu melakukan tindakan yang menggetarkan hati: mencuri uang tunai dan perhiasan milik neneknya sendiri. Tindakan tersebut bukan hanya mencerminkan keputusasaan, tetapi juga menggambarkan betapa permainan ilegal ini mampu merusak moral, logika, bahkan hubungan darah yang selama ini terikat oleh kasih sayang.
Peristiwa memilukan itu terjadi ketika sang nenek meninggalkan rumah untuk menjalankan rutinitas ibadah. Dalam keheningan pagi, cucunya memanfaatkan kesempatan untuk memasuki kamar sang nenek. Dengan tangan yang gemetar antara takut dan dorongan adiksi, ia mengambil perhiasan emas yang disimpan dalam kotak kecil serta uang yang selama ini menjadi tabungan masa tua. Segala yang dikumpulkan neneknya dengan jerih payah, lenyap sekejap dalam genggaman orang yang seharusnya menjadi pelindung, bukan pengkhianat.
Jeratan Judol yang Menghancurkan Akal Sehat
Keterpurukan cucu tersebut bukan tanpa sebab. Ia telah lama terjerat ke dalam kecanduan judol, sebuah permainan ilegal yang menawarkan ilusi kemenangan cepat namun berujung kerugian berlapis. Setiap kali kalah, ia terperangkap dalam lingkaran setan yang membuatnya yakin bahwa kemenangan berikutnya akan menutup kekalahan sebelumnya. Namun kenyataan berkata lain: judol terus menguras uang, energi, dan moralitas.
Sistem permainan daring semacam ini dirancang untuk memicu adiksi. Bonus palsu, notifikasi menggiurkan, dan tampilan antarmuka yang sengaja dibuat memancing emosi pemain menjadi jebakan psikologis yang sulit dihindari. Tidak heran bila seseorang yang terlanjur kecanduan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan dana tambahan—termasuk mencuri dari orang yang paling menyayanginya.
Kebingungan Sang Nenek dan Terungkapnya Fakta
Ketika sang nenek pulang, ia menemukan kotak perhiasannya kosong. Uang yang disimpannya pun lenyap. Tidak ada tanda-tanda pembobolan, tidak ada kerusakan pintu, tidak ada jejak pelaku. Kebingungan itu berubah menjadi kecemasan. Ia yang selama ini hidup sederhana dan berhati lembut, tidak pernah menduga bahwa orang terdekatnya menjadi pelaku.
Laporan pun dibuat. Warga sekitar ikut membantu, dan polisi segera turun tangan. Rekaman CCTV rumah memperlihatkan pelaku keluar terburu-buru dengan gerak-gerik mencurigakan. Inilah bukti yang menjadi titik terang. Ketika polisi menangkap pelaku, keluarga diliputi campuran emosi: marah, sedih, hancur, serta tidak percaya.
Sang cucu, dalam kondisi linglung, mengakui semuanya. Ia mengaku tak mampu menahan dorongan untuk kembali bermain judol. Kekalahan demi kekalahan membuatnya kehilangan akal sehat. Ia terjebak dalam fantasi kemenangan palsu yang disuntikkan oleh permainan ilegal tersebut.
Dampak Sosial dan Psikologis yang Lebih Dalam
Kasus ini menjadi refleksi nyata bagaimana judol tidak hanya merusak kantong, tetapi juga merusak struktur emosional keluarga. Hubungan nenek dan cucu yang seharusnya hangat berubah menjadi renggang. Rasa percaya runtuh. Nilai moral tergilas oleh keinginan instan.
Di masyarakat luas, kejadian ini menjadi peringatan. Banyak orang tua mulai lebih waspada terhadap perilaku anak muda yang terlihat sering meminjam uang, begadang di depan ponsel, atau menunjukkan perubahan sikap drastis. Adiksi judol memunculkan tanda-tanda yang sering kali dianggap sepele, tetapi sesungguhnya mengarah pada keruntuhan karakter.
Selain itu, fenomena ini menggambarkan ketidaksiapan generasi muda menghadapi kemudahan teknologi. Akses terhadap situs-situs ilegal begitu mudah, transaksi begitu cepat, dan rasa penasaran sering kali menjadi pintu masuk yang mematikan. Tanpa pengawasan dan edukasi, generasi muda dapat terjerumus lebih dalam ke dalam dunia yang merusak masa depan.
Upaya Mengatasi dan Mengembalikan Harapan
Pihak kepolisian menegaskan bahwa tindakan tegas akan diambil untuk memberantas platform judol. Namun penanganan masalah ini tidak cukup hanya dengan penegakan hukum. Ada aspek psikologis yang perlu disentuh, terutama bagi generasi muda yang sudah terlanjur kecanduan. Rehabilitasi, konseling keluarga, serta bimbingan moral menjadi langkah penting.
Di tengah kepedihan, nenek sang pelaku tetap menunjukkan kasih sayang yang luar biasa. Meski menjadi korban, ia berharap cucunya bisa berubah dan menemukan jalan keluar dari kecanduan. Ia memilih memaafkan, meski tidak dapat menghapus luka yang sudah terlanjur terbuka. Sikap ini mencerminkan cinta tanpa syarat seorang nenek—cinta yang sering kali tidak dapat dijelaskan dengan logika.
Penutup
Kisah ini adalah gambaran nyata betapa judol telah menjadi ancaman serius di era digital. Kecanduan yang dihasilkan bukan hanya merusak keuangan pribadi, tetapi juga meretakkan hubungan keluarga, merampas akal sehat, dan menghancurkan masa depan.
Dituntut kesadaran bersama, edukasi luas, serta penindakan tegas untuk memastikan tidak semakin banyak keluarga yang tenggelam dalam tragedi serupa. Kecanduan judol bukan sekadar persoalan permainan, tetapi persoalan kemanusiaan yang harus diselesaikan sebelum menelan lebih banyak korban.

