
Kornet.co.id – Kasus pencurian oleh pekerja rumah tangga kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, seorang ART diduga mengambil uang milik majikannya—bukan hanya rupiah, tetapi juga dolar dan euro dalam jumlah signifikan. Lebih mengejutkan lagi, pelaku berdalih bahwa uang asing tersebut hanya digunakan untuk foto-foto demi gaya di media sosial. Pengakuan yang tak lazim ini memantik polemik serta menyoroti kembali pentingnya pengawasan dan batasan kepercayaan di lingkungan domestik.
Majikan yang dirugikan awalnya merasa ada yang janggal. Saat hendak berlibur, ia melakukan pengecekan uang secara teliti. Hasilnya membuat kening berkerut: uang hilang, total mencapai selisih puluhan lembar yang tak dapat dijelaskan. Terutama 12 lembar pecahan 50 euro dan beberapa lembar 100 dolar yang menghilang tanpa jejak. Kecurigaan pun muncul, meski selama ini ia dikenal sebagai pribadi yang selalu berusaha berpikir positif.
Namun, fakta tak pernah berbohong. Setelah keberanian terkumpul, majikan ini memutuskan memasuki kamar ART, sebuah langkah yang sebelumnya tak pernah ia lakukan karena alasan sopan santun dan kepercayaan. Di dalam kamar tersebut, ia menemukan barang-barangnya sendiri—dari pakaian dalam, bra, baju, hingga vape, tripod, dan perlengkapan pribadi lainnya—berceceran seolah menjadi koleksi rahasia.
Modus Mengelabui: Mematikan Listrik untuk Menghindari CCTV
Salah satu fakta paling mencengangkan adalah temuan soal strategi pelaku. Rupanya, ART ini secara rutin mematikan aliran listrik rumah. Dengan begitu, CCTV pun ikut mati dan aktivitasnya tidak terekam. Ketika listrik padam, ia keluar rumah, diduga untuk bertemu suaminya, lalu kembali dini hari. Sebuah rutinitas tersembunyi yang tak pernah disadari oleh majikan karena selalu menaruh kepercayaan.
Di sinilah kejujuran diuji. Apa yang tampak di permukaan sering kali tak mencerminkan realitas. ART yang bersangkutan bahkan pernah memfitnah rekan kerjanya sendiri, menyebarkan isu negatif untuk menciptakan kesan bahwa hanya dirinya yang dapat dipercaya. Ternyata semua itu hanya topeng manipulatif, sebuah skema yang berhasil ia jalankan berbulan-bulan.
Pengakuan Tak Masuk Akal: “Cuma Buat Foto-Foto”
Saat akhirnya terpojok oleh bukti, pelaku memberikan alasan yang memicu decak kagum dan emosi sekaligus: uang asing itu diambil hanya untuk foto-foto agar terlihat mewah. Alasan yang terdengar absurd, tetapi secara psikologis mencerminkan kebutuhan akan pengakuan sosial yang kerap melampaui batas moral sebagian orang.
Motif seperti ini bukan hal yang asing di era digital. Demi citra glamor di media sosial, sebagian individu rela melakukan tindakan di luar nalar. Namun, ketika tindakan tersebut melibatkan penipuan, pencurian, dan penyalahgunaan kepercayaan, dampaknya jauh lebih serius daripada sekadar unggahan di layar ponsel.
Dampak Psikologis pada Majikan: Trust Issue yang Semakin Dalam
Kejadian ini menorehkan luka emosional bagi majikan. Dengan latar belakang memiliki trust issue, insiden ini kian memperparah ketidakmampuannya mempercayai orang lain. Bukan sekadar kehilangan uang, tetapi juga martabat, kenyamanan rumah, dan rasa aman. Sebuah tempat yang seharusnya menjadi ruang paling pribadi dan terlindungi.
Situasi seperti ini menggambarkan bagaimana hubungan antara majikan dan ART rentan terhadap ekses negatif ketika batas kepercayaan tidak disertai pengawasan. Kepercayaan tanpa pengawasan bukanlah kebaikan, melainkan celah. Pengalaman pahit ini menjadi momentum refleksi bagi banyak keluarga dalam memilih asisten rumah tangga melalui jalur yang benar-benar terpercaya dan profesional.
Pelajaran Penting: Selektif Memilih Dalam Mengelola Rumah Tangga
Kasus ini memberikan pelajaran berharga. Dalam merekrut ART, kehati-hatian adalah kewajiban. Verifikasi latar belakang, rekam jejak, serta reputasi yayasan penyedia jasa harus dipastikan dengan benar. Mengingat banyaknya kasus serupa, masyarakat perlu lebih waspada dan tidak mudah terbuai oleh kesan baik semata.
Tidak kalah penting, penggunaan CCTV yang mandiri dan tidak tergantung pada aliran listrik utama bisa menjadi solusi. Selain itu, barang berharga idealnya disimpan dalam brankas atau tempat yang tidak dapat diakses oleh orang lain.
Penutup: Mencegah Agar Tidak Ada Korban Berikutnya
Majikan korban pencurian ini akhirnya memutuskan untuk mempublikasikan kisahnya. Tujuannya bukan untuk mempermalukan siapa pun, tetapi memberikan peringatan keras kepada masyarakat luas agar tidak mengalami hal serupa. Apalagi, ia mengakui telah berganti ART hingga empat kali dan semuanya menimbulkan masalah.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa rumah adalah tempat paling sensitif, dan mereka yang diberi akses masuk harus dipilih secara cermat. Harapan utamanya: tidak ada lagi korban berikutnya, dan para oknum ART yang merugikan majikan dapat jera serta tidak mengulang tindakan yang sama.
Dengan meningkatnya kesadaran dan kehati-hatian, hubungan antara pekerja rumah tangga dan majikan dapat kembali berada di jalur yang sehat, profesional, dan saling menghormati.

