
Kasus penembakan pedagang bakso di Lhokseumawe, Aceh, kembali menjadi sorotan besar setelah beredar sebuah video dramatis: pelaku penembakan ini tiba-tiba disuruh diam saat memberi pengakuan di depan kamera! Momen tersebut tak hanya viral, tetapi juga memunculkan pertanyaan baru tentang adanya pihak lain yang mungkin terlibat dalam tewasnya Muhammad Nasir, pedagang bakso yang selama ini dikenal ramah dan bersahaja.
Video yang diunggah akun TikTok Info Kabar Jambi Terkini itu memperlihatkan AG, pelaku yang sudah ditangkap polisi Lhokseumawe, berjalan mengenakan pakaian tahanan oranye. Saat dibawa menuju ruang tahanan, ia sempat memohon kepada awak media sambil menangis, mengaku bahwa dirinya hanya “disuruh”. Namun tiba-tiba, seorang pria berbaju biru muncul dan memberi tanda telunjuk ke mulut—gerakan universal untuk menyuruh seseorang diam. Seketika AG langsung bungkam dan menunduk sambil menangis.
Insiden mengejutkan itu memicu lebih dari 10 juta penonton dan ribuan komentar, membuat publik bertanya-tanya: siapa pria berbaju biru itu, dan mengapa AG terlihat sangat takut?
Kronologi Penangkapan AG dan Video Viral yang Memicu Kecurigaan
Pengakuan Terputus karena Perintah “Diam!”
Sehari setelah penangkapan AG, polisi Lhokseumawe menggelar konferensi pers untuk menjelaskan perkembangan kasus. Namun perhatian publik justru tertuju pada momen ketika AG berteriak meminta bantuan wartawan:
“Semua pelakunya… semua yang menyuruh saya. Tolong bantu saya, Pak!”
Baru beberapa detik berbicara, muncul seorang pria berbaju biru di antara kerumunan, mengangkat telunjuk ke depan mulut sebagai isyarat agar AG tidak melanjutkan ucapannya. Pelaku penembakan ini tiba-tiba disuruh diam saat memberi pengakuan di depan kamera, dan reaksinya yang langsung terdiam membuat publik makin curiga bahwa ada tekanan pada dirinya.
Beberapa komentar warganet bahkan menyebut adegan itu “aneh”, “misterius”, atau “seolah menandakan ada sesuatu yang disembunyikan”.
Motif Sebenarnya: Utang Piutang Rp 90 Juta
Transfer Uang Berakhir Tragis
Dilansir tribunnews.com, Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ahzan, menjelaskan bahwa kasus ini bermula dari persoalan utang piutang antara AG dan korban. Pada 7 November 2025, AG mentransfer uang sebesar Rp 90 juta kepada korban dengan janji pengembalian dalam waktu dekat.
Namun hanya dua hari kemudian, ketika korban menagih, ia hanya mampu mengembalikan Rp 30 juta. Sisanya disebut sudah digunakan untuk membayar utang lain.
Situasi ini memicu rangkaian pertemuan yang berujung tragis.
Detik-Detik Pembunuhan di Jembatan Alue Lim
Pertemuan di Warung Kopi Berubah Mencekam
Pada 9 November malam, AG mendatangi rumah korban dan mengajaknya membahas masalah tersebut di sebuah warung kopi. Setelah sekitar 15 menit berbincang, datang mobil Ayla hitam yang dikemudikan pelaku lain.
Korban diajak pindah ke area dekat jembatan Desa Alue Lim, hanya beberapa meter dari warung.
Di lokasi di daerah Lhokseumawe itulah perdebatan terjadi. Menurut keterangan AG kepada polisi Lhokseumawe, korban dianggap tidak menunjukkan itikad baik untuk melunasi utang tersebut. Perdebatan memanas, hingga akhirnya:
- Satu tembakan mengenai lengan korban
- Tembakan kedua menembus leher hingga ke kepala
Korban meninggal seketika di lokasi sekitar Lhokseumawe. Mobil para pelaku tancap gas meninggalkan tempat kejadian.
Barang Bukti dan Temuan Penting Polisi
Dari tangan pelaku, polisi Lhokseumawe mengamankan:
- Senjata api rakitan laras pendek
- Tiga butir peluru
- Mobil minibus putih
- Informasi bahwa satu peluru lain masih hilang
Polisi Lhokseumawe memastikan senjata tersebut akan melalui uji balistik untuk mencocokkan peluru dengan luka tembak korban.
Tangis AG Pecah: “Saya Tidak Niat!”
Tak lama setelah konferensi pers, AG kembali menunjukkan sisi emosionalnya ketika digiring ke sel tahanan. Dalam rekaman video yang viral, ia menangis sambil mengatakan:
“Saya tidak niat menembak almarhum… saya disuruh!”
Namun drama semakin memanas ketika pelaku penembakan ini tiba-tiba disuruh diam saat memberi pengakuan di depan kamera, dan langsung menghentikan seluruh penjelasannya. Momen inilah yang membuat publik menduga ada pelaku lain yang lebih dominan atau kuat.
Polisi: Ada Pelaku Lain dan Pemilik Senjata Masih Buron
Kapolres Lhokseumawe memastikan bahwa AG bukan satu-satunya pelaku. Polisi Lhokseumawe sudah mengantongi nama pemilik senjata api rakitan yang digunakan AG. Orang tersebut kini berstatus DPO dan diyakini masih berada di wilayah Sumatera atau mungkin mencoba kabur ke luar negeri.
Pengejaran terhadap dua hingga tiga pelaku lain terus berlangsung. Polisi menekankan bahwa jaringan kasus ini akan dibongkar sepenuhnya.
Rekonstruksi Lengkap Berdasarkan Keterangan Polisi
Berikut rangkaian peristiwa yang disusun ulang berdasarkan data penyidikan:
7 November 2025
- AG mengirim Rp 90 juta kepada korban.
- Korban mengaku memakai Rp 30 juta untuk menutup utang lain.
9 November 2025
- AG mendatangi korban untuk membahas pengembalian uang.
- Percakapan berlangsung di warung kopi.
9–10 November (23.30 WIB – dini hari)
- Mobil Ayla hitam tiba, korban diajak ke jembatan Alue Lim.
- Terjadi cekcok soal utang.
- AG menembak korban dua kali.
- Para pelaku kabur dengan mobil berkecepatan tinggi.
Evakuasi
- Warga mendengar dua letusan dan menghubungi ambulans.
- Korban meninggal saat diperiksa tim medis RSU Cut Meutia.
- Jenazah dimakamkan keesokan harinya.
Publik Menyoroti “Pria Berbaju Biru”: Siapa Dia?
Banyak komentar warganet mempertanyakan sosok pria berbaju biru yang memberi isyarat diam kepada AG. Mereka bertanya-tanya apakah ia merupakan aparat, staf kepolisian, atau justru pihak luar yang tidak seharusnya mempengaruhi pengakuan tersangka.
Sebagian warganet berpendapat bahwa pria itu hanya berusaha menjaga jalannya penyidikan agar informasi penting tidak bocor ke publik. Namun sebagian lain merasa bahwa tindakan menyuruh diam itu justru menimbulkan kecurigaan baru.
Yang pasti, “pelaku penembakan ini tiba-tiba disuruh diam saat memberi pengakuan di depan kamera” telah menjadi potongan video paling ikonik dalam penyelidikan kasus ini.
Penutup: Misteri Masih Jauh dari Selesai
Walaupun AG telah ditangkap, masih banyak teka-teki yang belum terjawab. Siapa pihak yang disebut sebagai “penyuruh”? Mengapa AG begitu ketakutan ketika pria berbaju biru menyuruhnya diam? Dan bagaimana jaringan sebenarnya di balik kepemilikan senjata api tersebut?
Kasus ini belum berakhir. Publik menunggu penyelidikan hukum yang transparan dan lengkap demi mengungkap seluruh otak di balik tragedi ini.

