
Kornet.co.id – Tragedi kebakaran di Gedung Terra Drone, Kemayoran, Jakarta Pusat, menyisakan luka mendalam yang masih terasa hingga hari ini. Peristiwa yang terjadi di siang hari saat aktivitas kantor tengah berlangsung itu menjadi salah satu insiden paling memilukan yang pernah terjadi di kawasan tersebut. Gedung berlantai enam itu berubah menjadi kepungan asap dan api hanya dalam hitungan menit, meninggalkan puluhan korban serta serpihan kenangan yang tak akan pernah benar-benar hilang dari ingatan keluarga dan rekan kerja.
Kronologi Singkat Peristiwa
Peristiwa kebakaran ini bermula sekitar pukul 12.40 WIB, ketika sejumlah karyawan mencium bau menyengat dari lantai dasar gedung. Bau tersebut diikuti percikan api yang dengan cepat membesar, diperkirakan berasal dari area penyimpanan baterai dan perangkat elektronik. Karakteristik baterai litium yang mudah memicu percikan jika terjadi malfungsi membuat api menjalar tanpa peringatan panjang. Dalam hitungan detik, asap hitam pekat memenuhi lorong dan ruang kerja, membuat banyak orang panik dan berusaha mencari jalan keluar.
Sebagian karyawan berhasil menuruni tangga darurat, sementara sebagian lainnya terjebak di lantai tiga dan empat karena kepulan asap yang begitu tebal. Perjuangan mereka menuju titik aman menjadi sangat sulit karena jarak pandang yang hampir nihil. Kondisi ini diperparah oleh struktur gedung yang menyulitkan sirkulasi udara saat kebakaran terjadi.
Jumlah Korban Terbaru
Pembaharuan terbaru menyebutkan bahwa 22 orang meninggal dunia akibat insiden tersebut. Mayoritas korban diduga kehilangan nyawa karena menghirup asap beracun dalam jumlah besar. Sementara itu, lebih dari 50 orang lainnya dilaporkan selamat meski mengalami luka ringan, trauma inhalasi, dan gangguan pernapasan.
Evakuasi korban berlangsung dramatis. Petugas damkar dan tim medis bekerja tanpa henti, menaiki tangga, menembus ruangan penuh asap, serta memecahkan kaca jendela demi menyelamatkan mereka yang masih bisa bertahan. Upaya itu menegaskan betapa setiap detik sangat berarti dalam tragedi kebakaran berskala besar seperti ini.
Tantangan Tim Evakuasi
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa petugas menghadapi tantangan luar biasa. Struktur gedung yang terdiri dari banyak ruangan tertutup membuat distribusi asap berlangsung sangat cepat. Di beberapa titik, suhu ruangan naik drastis, mempersulit akses tim penyelamat saat mencoba menarik korban keluar.
Selain itu, medan yang penuh peralatan elektronik dan material yang mudah terbakar membuat api membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dikendalikan. Meski demikian, keberanian dan ketangguhan petugas pemadam menjadi penopang utama keberhasilan proses evakuasi yang menyelamatkan puluhan jiwa.
Analisis Penyebab Awal
Hingga kini, penyelidikan mengenai penyebab pasti kebakaran masih berlangsung. Petunjuk kuat mengarah pada kerusakan teknis baterai litium yang digunakan sebagai perangkat uji coba produk di gedung tersebut. Baterai ini terkenal memiliki sensitivitas tinggi terhadap panas berlebih maupun benturan. Bila mengalami overcharging atau korsleting internal, baterai dapat mengalami reaksi kimia spontan yang berujung pada ledakan kecil dan memicu api besar.
Temuan awal dari tim laboratorium forensik menunjukkan indikasi bahwa percikan api bermula dari salah satu rak penyimpanan alat yang menyimpan puluhan baterai dalam kondisi terisi sebagian. Kombinasi panas, reaksi kimia, serta ventilasi ruangan yang kurang memadai membuat api berkembang cepat tanpa sempat dideteksi lebih dini.
Dampak Emosional dan Sosial
Di balik angka-angka yang dilaporkan, tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan rekan kerja para korban. Banyak dari mereka yang sebelumnya datang hanya untuk bekerja seperti biasa, tanpa menyangka bahwa hari itu akan berubah menjadi petaka. Kesedihan menyelimuti rumah duka di berbagai daerah, menegaskan bahwa dampak kebakaran ini tidak hanya dirasakan di satu wilayah, tetapi meluas ke berbagai kota asal keluarga korban.
Perusahaan pun langsung mengambil langkah untuk memberikan pendampingan psikologis kepada karyawan yang selamat. Banyak dari mereka mengalami trauma mendalam, terutama mereka yang menyaksikan langsung upaya penyelamatan rekan-rekan kerja yang tidak berhasil keluar dari gedung.
Evaluasi Sistem Keamanan dan Respons Lanjutan
Insiden ini mendorong berbagai pihak untuk mengevaluasi standar keselamatan gedung bertingkat, terutama gedung yang digunakan sebagai pusat penelitian atau penyimpanan peralatan berisiko tinggi. Pelatihan evakuasi berkala, sistem deteksi asap otomatis, serta jalur evakuasi yang lebih terstruktur menjadi sorotan utama.
Selain itu, ada desakan agar pemerintah menerapkan regulasi lebih ketat terkait penyimpanan baterai litium dan perangkat elektronik serupa. Materi ini tak bisa diperlakukan sebagai peralatan biasa karena sifatnya yang sangat mudah memicu api. Standar internasional menuntut adanya ruangan khusus dengan sistem ventilasi dan pendinginan optimal, sesuatu yang kini menjadi bahan evaluasi mendesak pasca kebakaran di Kemayoran.
Penutup
Tragedi kebakaran Gedung Terra Drone Kemayoran menjadi peringatan nyata tentang pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi risiko di lingkungan kerja modern. Peristiwa ini menunjukkan bahwa teknologi yang canggih sekalipun tetap menyimpan potensi bahaya apabila tidak dikelola dengan standar keamanan maksimal. Masyarakat berharap kejadian ini menjadi titik tolak perubahan menuju sistem keselamatan yang lebih baik, lebih ketat, dan lebih manusiawi.
Di balik api yang telah padam, pelajaran berharga harus tetap menyala—agar kejadian serupa tak pernah terulang lagi.

