
Hari Raya Idul Adha di Kabupaten Blitar berubah menjadi tragedi setelah ledakan petasan di balon udara tanpa awak menewaskan satu orang dan melukai dua anak. Insiden terjadi di persawahan Dusun Tekik, Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari, sekitar pukul 06.30 WIB. Warga sedang bersiap ke tempat ibadah saat kejadian maut terjadi.
Korban Tewas Dengan Luka Mengerikan
Korban tewas, seorang pemuda berinisial IH (23) dari Dusun Krajan, ditemukan dalam kondisi kritis setelah ledakan. Lengan kanannya putus total, dan wajah hingga perutnya mengalami luka bakar parah. Dua anak, ADR (11) dan DS (12), hanya mengalami luka lecet ringan. Mereka langsung dievakuasi ke RSUD Ngudi Waluyo.
Baca Juga: Kemen PKP usul bedah 2 juta rumah 2027
Kepolisian Polres Blitar masih menyelidiki penyebab ledakan. Kasi Humas Aiptu Muheni mengatakan, petasan meledak saat masih dipegang korban. “Balon udara itu dipasangi petasan. Kemudian petasan itu meledak dan mengenai korban,” ujarnya.
Korban IH meninggal di rumah sakit akibat pendarahan hebat. Dua anak lainnya kini menjalani perawatan intensif untuk trauma psikis dan fisik. Lokasi kejadian telah dipasangi garis polisi, dan tim Satreskrim masih melakukan olah TKP.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Polisi belum menemukan penyebab pasti insiden. “Anggota masih terus melakukan penyelidikan dan pendalaman, untuk penanganan lebih lanjut. Mohon waktunya,” kata Muheni. Tim fokus mengumpulkan bukti seperti sisa balon udara dan serpihan petasan.
Baca Juga: Musikal MAR Kembali Siap Membius Penonton
Korban tewas dan luka tercatat sebagai warga Desa Tambakan. IH (23) dinyatakan meninggal, sementara ADR dan DS dalam kondisi stabil. Warga setempat masih berusaha memahami kejadian yang mengubah hari suci menjadi maut.
Penyelidikan terhadap asal-usul petasan dan balon udara ilegal terus berjalan. Polisi menegaskan tidak akan tinggal diam. Warga diimbau menghindari aktivitas berisiko di area persawahan saat perayaan besar.
Insiden ini menambah daftar kecelakaan terkait petasan di wilayah Jawa Timur. Meski tidak ada data resmi tentang tren tersebut, warga sering melaporkan kejadian serupa di daerah pedesaan.
Baca Juga: Mengapa Pergantian Musim Bikin Badan Loyo
RSUD Ngudi Waluyo menjadi tempat perawatan korban. Fasilitas medis diimbau meningkatkan kesiapan menghadapi kejadian serupa. Sementara itu, warga berharap kejadian ini menjadi pelajaran untuk tidak mengulangi kesalahan.
Ketiga korban kini mendapat perhatian dari masyarakat. Upaya penyelidikan berlanjut, dan polisi berkomitmen mengungkap pelaku jika ditemukan. Insiden ini menjadi peringatan untuk menghindari penggunaan bahan peledak secara ilegal.
