Kondisi Keuangan BUMN Karya Membuat Frustrasi

Kondisi Keuangan BUMN Karya Membuat Frustrasi

Kinerja BUMN karya masih terpuruk, kondisi keuangan membuktikan tekanan pada 2026.
HomeNewsAyah 78 Tahun Asal Gresik Mengaku Berulang Kali Minta Maaf

Ayah 78 Tahun Asal Gresik Mengaku Berulang Kali Minta Maaf

Ayah 78 Tahun Asal Gresik Mengaku Berulang Kali Minta Maaf - ayah 78 tahun Gresik

Seorang ayah berusia 78 tahun asal Desa Tenaru, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, diserahkan oleh anak kandung bersama menantunya ke Griya Lansia di Malang pada Selasa (13/10/2026). Dalam proses penyerahan tersebut, pria lanjut usia itu mengaku telah berulang kali meminta maaf kepada keluarganya, meskipun ia tidak memahami kesalahan yang membuat dirinya harus menjalani situasi tersebut.

Pengakuan itu disampaikan langsung kepada Arif Camra, CEO Griya Lansia Malang, ketika proses penyerahan berlangsung. Sang ayah mengungkapkan kebingungannya mengenai persoalan yang terjadi dalam keluarganya. Ia merasa telah berusaha melakukan introspeksi dan meminta maaf, tetapi upaya tersebut tidak mengubah keputusan keluarga untuk menyerahkannya ke lembaga perawatan lansia.

Sudah Berulang Kali Meminta Maaf kepada Keluarga

Di tengah situasi yang berat tersebut, sang ayah menyampaikan bahwa dirinya tidak mengetahui secara pasti kesalahan yang dipermasalahkan oleh keluarganya. Ia juga menegaskan bahwa ketidaktahuannya bukan berarti dirinya menolak melakukan introspeksi atas perilakunya sendiri.

Menurut pengakuannya, ia telah mencoba meminta maaf berkali-kali. Namun, ia tetap tidak memahami persoalan yang mendasari keputusan anaknya. Pernyataan itu menggambarkan kebingungan seorang ayah lanjut usia yang harus menghadapi perubahan besar dalam kehidupannya tanpa mengetahui secara jelas alasan di balik keputusan tersebut.

Peristiwa penyerahan itu turut menjadi perhatian Arif Camra. Melalui akun media sosialnya, ia mengungkapkan kejadian yang melibatkan pria berusia 78 tahun tersebut. Dalam keterangannya, Arif menyebut bahwa pihak Griya Lansia sempat berusaha menjadi penengah dengan meminta pasangan suami istri itu mempertimbangkan kembali keputusan mereka.

Upaya mediasi tersebut dilakukan agar keluarga memikirkan kembali penyerahan sang ayah secara total. Meski demikian, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam berita tersebut, proses penyerahan tetap berlangsung dan sang ayah menyaksikan sendiri penandatanganan dokumen yang berkaitan dengan penyerahan dirinya.

Griya Lansia Utamakan Orang Lanjut Usia Telantar

Arif menjelaskan bahwa Griya Lansia pada dasarnya bukan tempat untuk menerima penitipan orang tua secara umum. Lembaga tersebut diperuntukkan bagi para lansia yang berada dalam kondisi telantar, termasuk mereka yang ditemukan di jalanan, pasar, jembatan, maupun rumah kosong yang tidak layak dihuni.

Penjelasan tersebut disampaikan ketika proses mediasi dengan keluarga berlangsung. Menurut Arif, terdapat perbedaan antara membantu lansia yang benar-benar telantar dan menerima penyerahan orang tua oleh keluarganya. Karena itu, pihak Griya Lansia berupaya menjelaskan ketentuan lembaga sekaligus mencari kemungkinan lain bagi keluarga yang membutuhkan bantuan perawatan.

Arif juga menyebut bahwa pria asal Gresik itu masih dalam kondisi sehat dan tidak mengalami kepikunan. Kondisi tersebut menjadi salah satu informasi yang disampaikan mengenai keadaan sang ayah ketika proses penyerahan berlangsung.

Alternatif Perawatan melalui Skema Wakaf Rp 25 Juta

Sebagai alternatif bagi keluarga yang benar-benar membutuhkan bantuan untuk merawat orang tua, Griya Lansia menawarkan mekanisme melalui jalur wakaf. Dalam skema yang dijelaskan kepada keluarga pria asal Gresik tersebut, nilai wakaf yang ditawarkan sebesar Rp 25 juta untuk pembangunan satu kamar yang nantinya akan digunakan oleh sang ayah.

Skema tersebut menjadi pilihan yang ditawarkan oleh pihak Griya Lansia dalam pembicaraan dengan keluarga. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai keputusan akhir keluarga terkait tawaran wakaf tersebut.

Kisah ayah berusia 78 tahun ini memperlihatkan situasi keluarga yang rumit ketika keputusan mengenai perawatan orang tua harus diambil. Di tengah kebingungan yang ia ungkapkan dan usahanya meminta maaf, kondisi sang ayah menjadi pengingat akan pentingnya mempertimbangkan kebutuhan, keadaan, dan martabat lansia dalam setiap keputusan keluarga.