Teknologi

Rupiah Offshore Tertekan, BI Goyang Pasar Spot

By kornetco  | 
Rupiah Offshore Tertekan, BI Goyang Pasar Spot - rupiah offshore
Rupiah Offshore Tertekan, BI Goyang Pasar Spot

Rupiah offshore tetap berada di bawah tekanan, dengan pergerakan di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) menunjukkan volatilitas tinggi dan bias pelemahan pada Selasa (28 Juli 2026).

Pergerakan Rupiah di Pasar NDF

Pada pukul 07.01 WIB, nilai tukar hampir tidak berubah dari posisi semalam, mencatat pelemahan 0,81 % menjadi Rp18.109 per dolar AS. Sekitar 07.50 WIB, rupiah sempat menguat tipis 0,06 % ke Rp18.098, namun kembali melemah 0,05 % pada 08.18 WIB menjadi Rp18.118 per dolar.

Sementara itu, mata uang utama di kawasan Asia mengalami tekanan serupa. Won Korea Selatan turun paling dalam 0,21 %, diikuti ringgit Malaysia yang melemah 0,11 % dan dolar Singapura yang turun 0,04 %. Tidak ada mata uang yang mencatat penguatan pada sesi 07.13 WIB.

Baca Juga: INDY dan NCKL Masuk LQ45

Faktor Eksternal dan Domestik

Ketidakpastian terkait konflik Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama tekanan di pasar valuta asing. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran sedang melakukan pembicaraan diplomatik, namun memperingatkan kemungkinan kembali berkonflik jika negosiasi gagal. Pernyataan ini menambah beban pada indeks dolar AS dan harga minyak dunia, meski keduanya tidak menunjukkan pergerakan signifikan pada pagi itu.

Harga minyak Brent turun 0,57 % menjadi US$87,86 per barel, sementara indeks dolar AS tetap stabil di 101,53. Kondisi ini memberi sinyal bahwa tekanan eksternal tidak terlalu kuat, namun tetap berkontribusi pada volatilitas nilai tukar.

Di sisi domestik, arus keluar modal dari pasar saham Korea Selatan memengaruhi won, yang tertekan oleh aliran sebesar US$200,4 juta. Pada saat yang sama, yield obligasi pemerintah Korea Selatan tenor tiga tahun turun 8 basis poin menjadi 3,89 %, dan tenor sepuluh tahun turun 9 basis poin menjadi 4,35 %.

← Previous Article
INDY dan NCKL Masuk LQ45