Viral

Utsman bin Affan Nikahi Ruqayyah dan Ummu Kultsum

By kornetco  | 
Utsman bin Affan Nikahi Ruqayyah dan Ummu Kultsum - utsman bin affan
Utsman bin Affan menikah dengan Ruqayyah, putri Nabi yang sebelumnya dijodohkan dengan putra Abu Lahab.

Utsman bin Affan adalah sahabat dekat Nabi Muhammad SAW yang kemudian menjadi suami dua putri beliau, Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Kedua pernikahan itu terjadi pada masa awal Islam, masing‑masing menyimpan cerita tentang tantangan keluarga dan kesedihan pribadi.

Pernikahan Pertama dengan Ruqayyah

Awalnya Ruqayyah dijodohkan dengan putra Abu Lahab, paman Nabi yang dikenal keras kepala. Abu Thalib memperingatkan, “Kami berharap engkau tak mempersulit pernikahan mereka dengan sepupu‑sepupumu, Utbah dan Utaibah putra Abdul Uzza (Abu Lahab),” lalu Nabi meminta waktu untuk berbicara dengan putrinya.

Setelah berdiskusi dengan Khadijah dan kedua putrinya, Nabi menolak lamaran itu karena sifat buruk keluarga Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil. Meskipun penolakan menimbulkan dilema, doa mereka dikabulkan dan Ruqayyah tetap berada dalam perlindungan Allah.

Ketika Islam mulai menyebar di Mekkah, Abu Lahab menuntut pencabutan pernikahan, mengancam akan mencela keluarga Nabi. Putranya, Utbah, menuruti ayahnya dan menceraikan Ruqayyah sebelum hubungan suami‑istri terjalin.

Setelah bercerai, Ruqayyah menikah dengan Utsman bin Affan. Pasangan ini dikaruniai seorang anak laki‑laki bernama Abdullah, yang sayangnya meninggal pada usia enam tahun.

Keberangkatan Ruqayyah menambah beban Nabi, namun ia tetap bersyukur karena peristiwa itu tidak menodai kehormatan keluarganya. Utsman bin Affan kemudian menjadi salah satu figur penting dalam sejarah Islam.

Pernikahan Kedua dengan Ummu Kultsum

Pada tahun 3 H, tepatnya Rabiul Awal, Utsman bin Affan melamar Ummu Kultsum. Pernikahan itu berlangsung selama enam tahun tanpa menghasilkan keturunan.

Menurut riwayat, ketika Umar mengusulkan pernikahan Ummu Kultsum dengan Hafshah, Nabi menolak dan berkata, “Apakah kamu menginginkan yang lebih baik daripada itu? Aku menikahi Hafshah dan aku menikahkan Utsman dengan perempuan yang lebih baik daripada Hafshah, yaitu Ummu Kultsum.”

Aisyah binti Abu Bakar mencatat bahwa Nabi memerintahkan Ummu Aiman menyiapkan Ummu Kultsum dan mengantarkannya kepada Utsman dengan iringan rebana. Tiga hari setelah pernikahan, Nabi menanyakan kepadanya, “Wahai putriku, bagaimana kamu mendapati suamimu?” Jawabnya, “Ia adalah sebaik‑baik suami.”

Kesedihan melanda ketika Ummu Kultsum meninggal pada bulan Sya’ban tahun 9 Hijriah karena sakit. Nabi menunaikan shalat di kuburnya, dan Anas bin Malik melaporkan bahwa Nabi meneteskan air mata, lalu bertanya kepada para sahabat apakah ada yang berzina semalam. Abu Thalhah mengaku bersalah, dan Nabi memerintahkan agar ia turun ke kubur tersebut.

Kepergian istri kedua ini membuat Utsman tampak muram; Nabi pun menegur dengan lembut, “Jika kami memiliki putri yang ketiga, maka kami akan menikahkannya denganmu.”

Peristiwa ini menggambarkan betapa eratnya ikatan keluarga Nabi dengan sahabat-sahabat terdekatnya. Menyaksikan kesedihan Utsman memberikan gambaran nyata tentang beban emosional yang dihadapi para tokoh Islam pada masa awal.

Dalam konteks sejarah, dua pernikahan ini tidak hanya menegaskan kedekatan Utsman bin Affan dengan keluarga Nabi, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial dan politik pada masa itu. Keluarga Nabi harus menavigasi tekanan dari pihak-pihak yang menentang Islam, sementara sahabat‑sahabatnya berperan sebagai penopang utama.

← Previous Article
Anggaran Kemendikdasmen 2027 terbesar untuk guru non-ASN