
Banjir Kembali Melumpuhkan Aktivitas Pendidikan
Kornet.co.id – Kota Banjarmasin kembali menghadapi ujian berat ketika banjir merendam sejumlah wilayah pemukiman, termasuk kawasan pendidikan. Puluhan sekolah dari berbagai jenjang—mulai dari sekolah dasar hingga menengah—terpaksa menghentikan aktivitas belajar mengajar secara tatap muka. Air yang menggenangi ruang kelas, halaman sekolah, hingga akses jalan membuat proses pendidikan tidak memungkinkan untuk dilakukan secara normal.
Fenomena ini bukan hanya sekadar peristiwa musiman. Banjir di Banjarmasin telah menjadi siklus berulang yang berdampak langsung pada keberlangsungan pendidikan. Ketika air naik, prioritas utama adalah keselamatan siswa dan tenaga pendidik. Oleh karena itu, pembelajaran jarak jauh kembali menjadi solusi yang dianggap paling rasional di tengah keterbatasan.
Dampak Banjir terhadap Infrastruktur Sekolah
Genangan air menyebabkan kerusakan pada fasilitas sekolah. Meja, kursi, buku pelajaran, hingga perangkat elektronik tidak luput dari dampak banjir. Beberapa sekolah melaporkan lantai kelas berlumpur, dinding lembap, serta instalasi listrik yang harus dimatikan demi mencegah risiko korsleting.
Kerusakan ini tidak hanya bersifat fisik. Proses administrasi sekolah ikut terganggu. Arsip penting terancam rusak, dan perencanaan akademik harus disesuaikan secara mendadak. Dalam kondisi seperti ini, sekolah dituntut untuk beradaptasi cepat agar hak belajar siswa tetap terpenuhi.
Pembelajaran Online sebagai Jalan Tengah
Menghadapi kondisi darurat akibat banjir, Dinas Pendidikan setempat memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh atau online. Metode ini dipilih sebagai jalan tengah agar proses pendidikan tidak terhenti sepenuhnya. Guru menyampaikan materi melalui platform digital, sementara siswa mengikuti pelajaran dari rumah masing-masing.
Namun, penerapan pembelajaran online bukan tanpa tantangan. Tidak semua siswa memiliki akses internet yang stabil atau perangkat yang memadai. Di beberapa wilayah terdampak banjir, jaringan komunikasi juga mengalami gangguan. Kendati demikian, semangat untuk menjaga kontinuitas pendidikan tetap menjadi landasan utama kebijakan ini.
Peran Guru dan Orang Tua di Masa Krisis
Dalam situasi banjir seperti ini, peran guru dan orang tua menjadi semakin krusial. Guru dituntut untuk lebih fleksibel dalam menyusun metode pembelajaran, menyesuaikan beban tugas, serta memahami keterbatasan siswa. Materi disederhanakan tanpa menghilangkan esensi kompetensi yang harus dicapai.
Di sisi lain, orang tua berperan sebagai pendamping utama di rumah. Mereka membantu memastikan anak tetap mengikuti pembelajaran online meski kondisi lingkungan sekitar belum sepenuhnya pulih. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi kunci agar pendidikan tetap berjalan di tengah tekanan bencana.
Banjir dan Ketimpangan Akses Pendidikan
Peristiwa banjir kembali menyingkap persoalan klasik ketimpangan akses pendidikan. Siswa yang memiliki fasilitas memadai relatif lebih mudah beradaptasi dengan sistem online. Sebaliknya, mereka yang tinggal di daerah dengan keterbatasan ekonomi menghadapi tantangan berlapis.
Hal ini memunculkan urgensi evaluasi kebijakan pendidikan darurat. Pemerintah daerah perlu memastikan adanya dukungan konkret, seperti bantuan kuota internet, peminjaman perangkat belajar, atau modul pembelajaran alternatif berbasis luring. Dengan demikian, dampak banjir terhadap kesenjangan pendidikan dapat ditekan.
Upaya Pemulihan Pascabencana
Selain fokus pada pembelajaran online, upaya pemulihan sekolah pasca banjir juga menjadi agenda penting. Pembersihan ruang kelas, perbaikan fasilitas, dan sterilisasi lingkungan sekolah harus dilakukan sebelum kegiatan tatap muka kembali dibuka. Proses ini membutuhkan sinergi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat.
Dalam jangka panjang, mitigasi banjir perlu menjadi bagian dari perencanaan pembangunan pendidikan. Penataan drainase, peninggian bangunan sekolah, serta pemilihan lokasi yang lebih aman dari genangan air dapat menjadi langkah preventif untuk meminimalkan dampak di masa mendatang.
Pendidikan Harus Tetap Berjalan
Banjir memang membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat Banjarmasin, termasuk sektor pendidikan. Namun, kondisi ini juga menunjukkan daya lenting sistem pendidikan dalam menghadapi krisis. Dengan memanfaatkan teknologi dan kerja sama berbagai pihak, proses belajar tetap dapat berlangsung meski dalam keterbatasan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh berhenti oleh keadaan apa pun. Di tengah genangan air dan keterbatasan fasilitas, semangat belajar siswa dan dedikasi guru menjadi fondasi utama untuk terus melangkah. Banjir mungkin merendam sekolah, tetapi tidak boleh merendam harapan akan masa depan yang lebih baik.
