News

Meninggalnya Guruh Sukarno Putra meninggalkan warisan Swara Maharddhika di dunia

By wpsadmin  | 
Meninggalnya Guruh Sukarno Putra meninggalkan warisan Swara Maharddhika di dunia - guruh sukarno putra
Swara Maharddhika tampil di Balai Sidang Senayan, Jakarta, pada tahun 1987 untuk merayakan 10 tahun berdirinya. Foto: tainah ferreira/Pexels

Guruh Irianto Sukarno Putra, putra bungsu mendiang presiden pertama Sukarno, meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026 pagi. Pengaruhnya dalam dunia seni Indonesia—khususnya melalui Swara Maharddhika—tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah budaya populer negeri ini.

Pada 15-16 Juli 1987, grup ini menggelar pertunjukan besar-besaran di Balai Sidang Senayan, Jakarta, untuk merayakan 10 tahun berdirinya. Acara tersebut menggabungkan musik, tari, drama, dan unsur suara dalam satu paket, dengan kostum yang mencolok dan koreografi yang menarik. Menurut buku “100 Konser Musik di Indonesia” (2018) karya Anas Syahrul Alimi dan Muhidin M. Dahlan, pertunjukan ini menjadi titik balik budaya remaja Indonesia pada era 1970-1980-an.

Swara Maharddhika awalnya dibentuk tahun 1977 sebagai kelompok vokal dengan anggota terbatas. Namun, seiring waktu, grup ini berkembang menjadi fenomena seni yang menarik ribuan penonton. Ciri khas pertunjukannya adalah tarian yang lincah, kostum yang meriah, tata lampu yang energik, dan lagu-lagu ciptaan Guruh yang mencakup tema cinta, nasionalisme, dan kritik sosial.

Legacy of Swara Maharddhika alumni

Banyak alumni Swara Maharddhika kini menjadi nama besar di industri seni Indonesia. Di antaranya Marissa Haque, Soraya Haque, Irianti Erning Praja, dan Denny Malik. Denny Malik, misalnya, dikenal sebagai koreografer dan penyanyi dengan lagu ikonik “Jalan Sore” pada era 1980-an. Sementara Soraya Haque mengungkapkan dalam unggahan Instagram pada 28 Agustus 2026 bahwa pengalaman di Swara Maharddhika menjadi awal perjalanan kebangsaannya. Di sanalah saya mulai mengenal Indonesia, melalui gerak tari, lantunan lagu, dan panggung-panggung besar yang menempa jiwa remaja. Dari sana pula tumbuh rasa kagum, cinta, dan kebanggaan pada negeri dengan budaya yang begitu kaya dan beragam. Perjalanan itu bukan sekadar tentang seni. Ia adalah perjalanan untuk mengenal Indonesia, merasakan denyut keberagamannya, dan belajar mencintai tanah air melalui budaya.

Pengaruh Swara Maharddhika juga terlihat dalam budaya sekolah pada era 1980-an. Banyak siswa SMP-SMA yang mengadopsi gaya pensi dengan meniru konsep pertunjukan grup ini. Buku “Yang Nge-tren di Tahun 80-90-an” (2016) karya Nicko Krisna bahkan mencatat bahwa gaya pertunjukan Swara Maharddhika menjadi trend setter bagi generasi muda saat itu.

Kebaya as national identity campaign

Salah satu inovasi Guruh yang paling berdampak adalah kampanyenya untuk mempopulerkan kebaya sebagai busana nasional. Pada masa itu, kebaya mulai tergeser oleh tren pakaian barat seperti jeans dan kaus. Dalam pertunjukan 1987, Guruh merancang kebaya khusus untuk para penampil, dengan harapan agar kebaya dapat menjadi identitas nasional yang tidak hanya terbatas pada acara formal atau tradisional. Ide ini kemudian terwujud beberapa tahun kemudian, ketika Hari Kebaya Nasional ditetapkan pada 24 Juli 2023 melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023.

Meskipun Swara Maharddhika resmi dibubarkan pada 1987, Guruh tidak berhenti mendorong generasi muda melalui seni. Ia mendirikan GSP (Guruh Sukarno Putra) pada 1989 sebagai kelanjutan perannya dalam menginspirasi anak muda. Pengaruhnya tidak hanya terbatas pada masa itu, tetapi juga menjadi fondasi bagi perkembangan seni dan budaya Indonesia hingga kini.

← Previous Article
Expo Haji Madiun Menggerakkan Ekonomi, Tantangan Pengiriman
Next Article →
BRImo Raffle Tiket BRI Super League Rp1 untuk Pengguna